AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
Adab Pesantren Darud Da’wah wal-Irsyad [DDI]
Adab di pesantren DDI bukan sekadar aturan sopan santun yang tertulis di papan pengumuman.
Tapi ini adalah cara hidup yang meresap ke keseharian, dari hal paling kecil sampai yang paling besar.
Cara berjalan di depan orang yang lebih tua. Cara menerima sesuatu dengan tangan kanan. Cara mengetuk pintu sebelum masuk ruangan. Cara mendengarkan ketika seseorang sedang berbicara.
Di sekolah biasa, hal-hal ini mungkin diajarkan sesekali. Di pesantren, ini dipraktikkan setiap hari, setiap jam, selama bertahun-tahun. Dan karena santri hidup di lingkungan yang sama dengan guru dan penbinanya dua puluh empat jam, adab ini bukan hanya berlaku di kelas, tapi di mana-mana.
Di pesantren DDI, hubungan santri dengan guru punya dimensi yang berbeda dari hubungan murid-guru di sekolah biasa.
Ada konsep penghormatan yang mendalam, bukan takut, tapi hormat. Santri diajarkan untuk tidak berjalan di depan guru, tidak memotong pembicaraan, berdiri ketika guru masuk ruangan, dan menyapa dengan salam.
Penghormatan ini meluas ke semua orang yang lebih tua, bukan hanya guru, tapi juga staf pesantren, tamu yang berkunjung, dan tentu orang tua sendiri.
Banyak orang tua yang terkejut ketika anak yang dulu biasa saja sikapnya, setelah beberapa bulan di pesantren pulang dengan cara bicara yang lebih lembut dan lebih menghargai.
Apakah ini berarti santri menjadi pasif dan tidak berani berpendapat? Tidak. Pesantren juga mengajarkan keberanian berbicara, melalui tradisi training, muhadharah, debat, dan musyawarah.
Yang diajarkan bukan diam, tapi cara menyampaikan pendapat dengan adab. Ini keseimbangan yang tidak mudah, dan pesantren terus berusaha menjaganya meskipun belum selalu sempurna.
Hidup bersama banyak orang di satu lingkungan pondok mengharuskan adab yang kuat dalam berinteraksi.
Menghormati privasi teman sekamar. Tidak mengambil barang orang lain tanpa izin.
Berbicara dengan baik meskipun sedang kesal. Meminta maaf ketika salah, bukan karena disuruh, tapi karena memahami bahwa itu bagian dari hidup bersama yang sangat dianjurkan oleh agama.
Apakah semua santri selalu berinteraksi dengan adab sempurna? Tentu tidak.
Mereka remaja, ada pertengkaran kecil, ada momen emosional, ada gesekan yang wajar. Tapi karena budaya adab terus ditanamkan dari lingkungan, koreksi terjadi secara kolektif. Bukan hanya guru yang mengingatkan, teman sebaya pun ikut menjaga.
Tradisi ukhuwah di pesantren, mengajarkan bahwa menghormati orang lain bukan kelemahan, tapi kekuatan.
Dan pelajaran ini, bagi banyak alumni, menjadi salah satu bekal paling berguna di dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
