PENA ANRE GURUTTA KETUA UMUM PB DDI
[Prof. Dr. AG. H.Andi Syamsul Bahri A.Galigo, Lc , M.A]
Editor : Muh. Aydi Syam
بِسْمِ اللّٰهِ الرٌَحْمٰنِ الرٌَحِيْمِ
BULAN MUHARRAM PERSPEKTIF TASAWUF
A. Pendahuluan
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Selain memiliki keutamaan dalam syariat, bulan ini juga mempunyai makna spiritual yang mendalam perspektif tasawuf.
Para ulama sufi memandang Muharram sebagai momentum untuk memperbaharui hubungan kepada Allah Swt., melakukan introspeksi diri, memperbanyak ibadah, serta membersihkan hati dari berbagai penyakit rohani.
Keutamaan bulan Muharram ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya QS at-Taubah (9): 36
﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ﴾
Terjemahnya:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu.”
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan keutamaan bulan Muharram melalui sabdanya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ».¹
Artinya:
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.”
Muharram sebagai Momentum Tafakur dan Tazkiyah. Dalam tradisi tasawuf, Muharram dipandang sebagai waktu yang sangat tepat untuk melakukan tafakkur (perenungan) dan tazkiyat an-nafs (penyucian jiwa).
Pergantian tahun Hijriah menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan hidup, menghitung amal yang telah dilakukan, serta memperbaiki kekurangan yang masih ada. Allah Swt. berfirman dalam QS al-Hasyr (59): 18
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾
Terjemahnya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”
Para sufi mengajarkan bahwa muhasabah merupakan pintu menuju ma‘rifatullah. Dengan merenungi dosa dan kekurangan diri, seorang hamba akan lebih mudah kembali kepada Allah dengan hati yang bersih dan penuh penyesalan.
B. Dzikir dan Doa
Dzikir merupakan amalan utama dalam tasawuf. Melalui dzikir, hati memperoleh ketenangan dan kedekatan kepada Allah Swt. Oleh karena itu, bulan Muharram menjadi kesempatan yang sangat baik untuk memperbanyak dzikir, istigfar, dan doa. Allah Swt. berfirman dalam QS al-Ra‘d (13): 28:
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
Terjemahnya:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Dzikir yang dilakukan secara istiqamah akan menghidupkan hati, menumbuhkan rasa muraqabah kepada Allah, dan memperkuat ikatan spiritual seorang hamba dengan Tuhannya.
C. Ibadah Malam
Para ulama sufi dikenal sebagai orang-orang yang sangat menjaga ibadah malam. Pada bulan Muharram, mereka memperbanyak salat tahajud, tilawah al-Qur’an, munajat, dan istigfar. Allah Swt. berfirman QS al-Isrā’ (17): 79:
﴿وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ ۖ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا﴾
Terjemahnya:
“Dan pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
Dalam pandangan tasawuf, malam adalah waktu yang paling tenang untuk bermunajat kepada Allah dan membersihkan hati dari berbagai kotoran spiritual.
D. Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Muharram
1. Puasa Tasu‘a dan Asyura
Salah satu amalan utama pada bulan Muharram adalah puasa tanggal 9 dan 10 Muharram. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ».²
Artinya:
“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram).”
Hadis ini menjadi dasar disunnahkannya puasa Tasu‘a (9 Muharram) bersama puasa Asyura (10 Muharram) sebagai bentuk penyelisihan terhadap kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura.
2. Memperbanyak Sedekah
Bulan Muharram juga merupakan waktu yang baik untuk memperbanyak sedekah dan membantu sesama. Sedekah tidak hanya memberikan manfaat sosial, tetapi juga membersihkan jiwa dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Allah Swt. berfirman QS al-Baqarah (2): 261
﴿مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾
Artinya:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”
3. Memperbanyak Ibadah Sunnah
Selain puasa dan sedekah, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah sunnah seperti membaca al-Qur’an, salat sunnah, dzikir, doa, dan berbagai amal saleh lainnya.
Dengan memperbanyak ibadah pada bulan Muharram, seorang muslim dapat mengawali tahun Hijriah dengan semangat ketaatan dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah Swt.
E. Penutup
Perspektif tasawuf, bulan Muharram bukan sekadar awal tahun Hijriah, tetapi merupakan momentum pembaharuan spiritual.
Melalui tafakur, tazkiyah, dzikir, do’a, ibadah malam, puasa, sedekah, dan berbagai amal saleh lainnya, seorang muslim dapat meningkatkan kualitas hubungan kepada Allah Swt. serta membersihkan hati dari berbagai penyakit rohani.
Dengan demikian, Muharram menjadi sarana untuk memulai perjalanan hidup yang lebih dekat kepada Allah dan lebih siap menghadapi kehidupan dunia maupun akhirat. Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.
وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد
Jakarta, 07 Muharram 1447 H
21 Juni 2026 M
Footnote:
¹Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Ṣiyām, Bāb Faḍl Ṣawm al-Muḥarram, No. Hadis 1163 (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāṡ al-‘Arabī, t.th.), jil. 2, h. 821.
²Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Ṣiyām, Bāb Ayyu Yawm Yuṣāmu fī ‘Āsyūrā’, No. Hadis 1134 (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāṡ al-‘Arabī, t.th.), jil. 2, h. 797.
