MUTIARA HIKMAH
ANRE GURUTTA MANGKSO
By Muh. Aydi Syam
بِسْمِ اللّٰهِ الرٌَحْمٰنِ الرٌَحِيْمِ
MARHABAN TAHUN BARU ISLAM 1448 H
01. Mengapa umat Islam mendasarkan kalendernya pada hijrah nabinya, bukan pada kelahiran nabinya, dan bukan pula pada awal turunnya al-Qur’an?
Oleh karena di situlah awal mula bangkitnya umat Islam dari semua sisi dan dimensi.
02. Kelahiran Nabi adalah kelahirannya rahmat untuk alam semesta. Namun dengan hijrahnya nabi, maka rahmat itu dapat diserap oleh seluruh alam.
03. Nabi Saw. adalah pejabat yang tidak mengenal fasilitas dunia berupa rumah dinas, kendaraan dinas, tunjangan kinerja, dan lain-lain.
Beliau dititipi amanah dan tanggung jawab yang luar biasa beratnya, tidak jelas imbalan dunianya, amat jelas resiko dalam kehidupannya dan bahkan sesekali nyawa yang jadi taruhannya.
Namun beliau senantiasa tabah, sabar, tegar, semangat, tulus, dan ikhlas untuk mengembang tugas, amanah, dan tanggung jawab selaku seorang nabi dan rasul pilihan Allah.
04. Nabi Saw. saat di Mekah, beliau pernah shalat lalu dikalungkan usus kambing di kepalanya tatkala beliau sujud dalam shalatnya. Itu salah satu potret perlakuan biadab yang dialami oleh beliau dari kelompok yang antipati dengan da’wah.
05. Ketika para pemuka Quraisy berkumpul di Dār al-Nadwah untuk merencanakan pembunuhan Nabi ﷺ menjelang hijrah ke Madinah. Usulan yang diterima adalah mengambil seorang pemuda kuat dari setiap kabilah agar mereka bersama-sama menyerang Nabi ﷺ sehingga Bani Hasyim tidak mampu menuntut balas kepada satu kabilah tertentu.
Hal ini diisyaratkan dalam QS al-Anfal: 30 berikut ini:
* وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ ٣٠
Terjemahnya:
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”
06. Menurut riwayat yang masyhur, ada 11 orang yang dipilih untuk mengepung rumah Nabi ﷺ, mereka adalah:
* أبو جهل بن هشام (Abū Jahl bin Hisyām)
* الحكم بن أبي العاص (Al-Ḥakam bin Abī al-ʿĀṣ)
* عقبة بن أبي معيط (ʿUqbah bin Abī Muʿaiṭ)
* النضر بن الحارث (Al-Naḍr bin al-Ḥārith)
* أمية بن خلف (Umayyah bin Khalaf)
* زمعة بن الأسود (Zamʿah bin al-Aswad)
* طعمة بن عدي (Ṭuʿmah bin ʿAdī)
* أبو لهب (Abū Lahab)
* أبي بن خلف (Ubayy bin Khalaf)
* نبيه بن الحجاج (Nabīh bin al-Ḥajjāj)
* منبه بن الحجاج (Munabbih bin al-Ḥajjāj)¹
07. Namun apa yang terjadi? Allah Swt. segera menolong kekasih-Nya Saw. sehingga di tengah malam para penjaga didatangi ngantuk yang luar biasa. Nabi Saw. keluar dari rumah tatkala para penjaga tertidur lelap.
Nabi Saw. mengguguri pasir para penjaga sampai mereka tidak merasa sedikit pun kalau sang yang terjaga sudah lolos keluar dari rumah.
Nabi Saw. menyuruh Ali bin Aby Talib untuk berbaring di tempat tidurnya. Kemudian Nabi Saw. bergegas menuju ke rumah Abu Bakar al-Shiddiq r.a. lalu beliau menyampaikan bahwa strategi da’wah harus dirubah, mari kita hijrah ke Madinah!
08. Nabi Saw. berjalan ke arah selatan kota Mekah menuju ke Jabal Tsaur. Para pemuda/algojo pada ribut tatkala mereka semua terbangun dari tidurnya dan mendapati ada pasir yang digugurkan pada wajahnya sehingga mereka saling melemparkan tuduhan.
09. Tatkala nabi Saw. berada dalam gua Tsaur, yakni malam Jumat, malam Sabtu, malam Ahad hingga malam Senin, pengembala kambing Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a [Amir bin Fuhairah] setiap hari datang membawakan bekal.
10. Pada saat kritis, pertolongan Allah Swt itu pasti datang. Kala itu datang melalui burung merpati yang mondar-mandir masuk ke mulut gua dan laba-laba yang secepat itu membuat jaring sampai menutupi mulut Gua sehingga dikira oleh para pencari tidak ada orang dalam gua.
11. Mengenai kisah Rasulullah ﷺ disengat oleh kalajengking di Gua Tsaur yang sering diceritakan kendati itu tidak disebutkan dalam riwayat yang sahih, namun sangat masyhur diceritakan sebagai gambaran betapa dalamnya kasih sayang dan kesetiaan Abu Bakr al-Shiddiq, r.a. kepada nabi Saw. dalam hal mengawal perjuangan dakwah.²
12. Tanggal 01 Rabiul Awal 01 H bertepatan dengan 16 september 622 M, pada malam Senin, nabi Saw. berangkat ke Madinah berempat, yaitu: Nabi Saw., Abu Bakr al-Shiddiq, r.a., Amir bin Fuhairah, r.a dan Abdullah bin Uraiqith³ selaku gaid.
13. Pagi hari Senin, 08 Rabiul Awal 01 H/23 September 622 M tiba di Quba dan tinggal di rumah sahabat yang bernama Kaltsum bin al-Hakam selama 4 hari. Dalam waktu 4 hari transit itu, maka dibangunlah masjid Quba.
14. Jumat pagi, 12 Rabiul Awal 01 H, beliau tinggalkan Quba lalu bertolak menuju Madinah. Di tengah perjalanan, beliau singgah di rumah shabat yang bernama Salim yang terletak di kampung Baniy Salim. Di kampung itulah turun wahyu QS al-Jumu’ah [62]: 9 berikut ini:
* ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ٩﴾
Terjemah:
* “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”
15. Ayat itu turun menginstruksikan pelaksanaan shalat Jum’at, maka pada hari itulah shalat Jum’at pertama kali dilakukan oleh Nabi Saw. yang diikuti oleh sekitar 100 orang sahabat.
Di tempat itulah kemudian dibangun masjid monumental yang diberi nama masjid “al-Jumu’ah” untuk mengenang peristiwa yang bersejarah ini.
16. Setelah shalat Jum’at, nabi Saw. melanjutkan perjalanan ke kota Madinah. Di sana, beliau disambut oleh penduduk kota Madinah dengan segala suka ria melalui nyanyian”Tala’al badru ‘alaina”.⁴
17. Nabi Saw. setiba di Madinah, beliau melakukan 3 hal yang sangat strategis untuk meletakkan pondasi peradaban masyarakat Madani, yaitu:
a) Mu’akhah (mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar),
b) Menyusun piagam Madinah (sahifah al-Madinah), dan
c) Membangun masjid Nabawiy.⁵
18. Di Madinah, beliau mendirikan pemerintahan Islam, menetapkan Syari’at Islam selaku konstitusi negara, memajukan perekonomian, mengangkat kesejahteraan masyarakat, menjalin kerjasama dengan para pemimpin qabila sekaligus menda’wahi untuk masuk Islam, serta memperkuat militer untuk pertahanan dan pembelaan negara.⁶
19. Kesimpulannya bahwa hijrahnya Rasulullah Saw. ke Madinah, itulah tonggak kebangkitan kemajuan Islam dari berbagai sisi dan dimensi sehingga amat tepat untuk dijadikan awal perhitungan kalender Islam.
وبالله التوفيق والدعوة والإرشاد
Mangkoso, 01 Muharram 1448 H
16 Juni 2026 M
Rujukan:
¹Abd al-Malik ibn Hisham, Al-Sīrah al-Nabawiyyah li Ibn Hishām (Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 2001), jil. 2, hlm. 124–126; Safiur Rahman al-Mubarakpuri, Al-Raḥīq al-Makhtūm (Riyadh: Dār al-Salām, 2002), hlm. 167–169.
²Riwayat yang masyhur di kalangan masyarakat menyebutkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar al-Shiddiq r.a berada di Gua Tsaur, beliau menutup lubang-lubang gua dengan kain atau anggota tubuhnya agar tidak ada binatang yang keluar menyakiti Rasulullah ﷺ. Kemudian seekor kalajengking atau ular menggigit Abu Bakar, namun beliau menahan rasa sakitnya agar tidak mengganggu tidur Rasulullah ﷺ. Ketika air mata Abu Bakar menetes mengenai wajah Rasulullah ﷺ, beliau terbangun lalu mendoakannya sehingga rasa sakit itu hilang.
Namun para ulama hadis menilai kisah ini tidak sahih dan sebagian jalurnya sangat lemah. Adapun yang diceritakan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim hanyalah bahwa Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur selama tiga malam, dibantu oleh Abdullah bin Abu Bakar, r.a., Asma binti Abu Bakar, r.a., dan Amir bin Fuhairah r.a. Lihat, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Manāqib al-Anṣār, Bāb Hijrah al-Nabī ﷺ wa Aṣḥābih ilā al-Madīnah, hadis no. 3905; Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Faḍāʾil al-Ṣaḥābah, Bāb Min Faḍāʾil Abī Bakr al-Ṣiddīq, r.a., hadis no. 2381.
³Abdullah bin Uraiqith ketika itu masih musyrik namun amanah dan piawai untuk mengantar kafilah melewati jalan-jalan alternatif menuju Madinah.
⁴Perlu diketahui bahwa kisah penduduk Madinah menyambut Rasulullah ﷺ dengan nasyid «طلع البدر علينا» sangat masyhur dalam kitab-kitab sirah kendati sanad riwayatnya diperselisihkan oleh para ahli hadis. Banyak ulama menilai sanadnya lemah, meskipun mereka tetap mencantumkannya dalam karya-karya sejarah dan sirahnya. Lihat, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, karya Ibn Kathīr, Juz 3 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988), hlm. 222. Bisa juga dilihat, Al-Rahīq al-Makhtūm, Ṣafiyyur-Raḥmān al-Mubārakfūrī, Al-Raḥīq al-Makhtūm (Beirut: Dār al-Hilāl, 1979), hlm. 167.
Menurut sebagian riwayat yang disebutkan dalam kitab-kitab sirah, Rasulullah ﷺ disambut oleh penduduk Madinah dengan lantunan nasyid Ṭala‘a al-Badru ‘Alaynā. Lihat, Ibn Kathīr, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Juz 3 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988), hlm. 222. Riwayat ini masyhur dalam kitab-kitab sirah, namun sanadnya dinilai lemah oleh sejumlah ahli hadis.
⁵Al-Sīrah al-Nabawiyyah, Ibn Hisyām, Al-Sīrah al-Nabawiyyah, Juz 2 (Beirut: Dār al-Jīl, 1411 H), hlm. 110–118; Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Ibn Kathīr, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Juz 3 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988), hlm. 213–225. Boleh dilihat juga, Ṣafiyyur-Raḥmān al-Mubārakfūrī, Al-Raḥīq al-Makhtūm (Beirut: Dār al-Hilāl, 1979), hlm. 170–181.
⁶Al-Sīrah al-Nabawiyyah, Ibn Hisyām, Al-Sīrah al-Nabawiyyah, Juz 2 (Beirut: Dār al-Jīl, 1411 H), hlm. 118–135; Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Ibn Kathīr, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Juz 3 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988), hlm. 222–250. Boleh juga dilihat, Fiqh al-Sīrah, Muḥammad al-Ghazālī, Fiqh al-Sīrah (Damaskus: Dār al-Qalam, 2006), hlm. 189–212. Untuk lebih akuratnya, lihat, Ibn Hisyām, Al-Sīrah al-Nabawiyyah, Juz 2 (Beirut: Dār al-Jīl, 1411 H), hlm. 118–135.[]
