AG. Prof. Dr. H. A. Syamsul Bahri AG., Lc., MA.
Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjdudul al-Adab fid Din menulis sebagai berikut:
آداب المتعلم مع العالم: يبدؤه بالسلام ، ويقل بين يديه الكلام ، ويقوم له إذا قام ، ولا يقول له : قال فلان خلاف ما قلت ، ولا يسأل جليسه في مجلسه ، ولا يبتسم عند مخاطبته ، ولا يشير عليه بخلاف رأيه ، ولا يأخذ بثوبه إذا قام ، ولا يستفهمه عن مسألة في طريقه حتى يبلغ إلى منزله، ولا يكثر عليه عند ملله.
“Adab murid terhadap guru, yakni: mendahului beruluk salam, tidak banyak berbicara di depan guru, berdiri ketika guru berdiri, tidak mengatakan kepada guru, “Pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda”, tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya ketika guru di dalam majelis, tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru, tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan guru, tidak menarik pakaian guru ketika berdiri, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan hingga guru sampai di rumah, tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada guru ketika guru sedang lelah.”
Dari kutipan di atas dapat diuraikan adab murid terhadap gurutta sebagai berikut:
01, mendahului beruluk salam. Seorang murid hendaknya mendahului beruluk salam kepada gurutta.
Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa yang kecil memberi salam kepada yang besar.
02, tidak banyak berbicara di depan guru.
Banyak berbicara bisa berarti merasa lebih tahu dari pada orang-orang di sekitarnya. Apa bila hal ini dilakukan di depan guru, maka bisa menimbulkan kesan seolah-seolah murid lebih tahu dari pada gurunya. Hal ini tidak baik dilakukan kecuali atas perintah guru.
03, berdiri ketika guru berdiri. Bila guru berdiri, murid sebaiknya lekas berdiri juga.
Hal ini tidak hanya penting kalau-kalau guru memerlukan bantuan sewaktu-waktu, misalnya uluran tangan agar segera bisa tegak berdiri, tetapi juga merupakan sopan santun yang terpuji. Demikian pula jika guru duduk sebaiknya murid juga duduk dengan tenang.
04, tidak mengatakan kepada gurutta, “Pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda.
”Ketika gurutta memberikan suatu penjelasan yang berbeda dengan apa yang pernah dijelaskan oleh orang lain, sebaiknya murid tidak langsung menyangkal penjelasan guru.
Sebaiknya murid meminta izin terlebih dahulu untuk menyampaikan pendapat orang lain yang berbeda. Jika gurutta berkenan, murid tentu boleh menyampaikan hal itu.
05, tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya sewaktu gurutta di dalam majelis.
Dalam majlis ta’lim atau kegiatan belajar mengajar di kelas, murid hendaknya bertanya kepada guru ketika ada hal yang belum jelas. Hal ini tentu lebih baik daripada bertanya kepada teman di sebelahnya.
Lebih memilih bertanya kepada teman dan bukannya langsung kepada guru bisa membuat perasaan gurutta kurang nyaman.
06, tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru. Gurutta tidak sama dengan teman, dan oleh karenanya tidak bisa disetarakan dengan teman.
Seorang murid harus memosisikan guru lebih tinggi dari teman sendiri sehingga ketika berbicara dengan guru tidak boleh sambil tertawa atau bersenyum yang berlebihan.
07, tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan gurutta. Bisa saja seorang murid memiliki pendapat yang berbeda dengan guru.
Jika ini memang terjadi, murid tidak perlu mengungkapkannya secara terbuka sehingga diketahui orang banyak. Lebih baik murid meminta komentar sang guru tentang pendapatnya yang berbeda.
Cara ini lebih sopan dari pada menunjukkan sikap kontra dengan gurutta di depan teman-teman.
08, tidak menarik pakaian gurutta ketika berdiri.
Ketika gurutta hendak berdiri dari posisi duduk mungkin ia membutuhkan bantuan karena kondisinya yang sudah agak lemah.
Dalam keadaan seperti ini, murid jangan sekali-kali menarik baju gurutta dalam rangka memberikan bantuan tenaga.
Ia bisa berjongkok untuk menawarkan pundaknya sebagai tumpuan untuk berdiri; atau sesuai arahan guru.
09, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan hingga gurutta sampai di rumah.
Jika ada suatu hal yang ingin ditanyakan kepada gurutta, terlebih jika itu menyangkut pribadi guru, tanyakan masalah itu ketika telah sampai di rumah. Tentu saja ini berlaku terutama kalau perjalanan dengan menaiki kendaraan umum.
10, tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada gurutta ketika sedang lelah.
Dalam keadaan gurutta sedang lelah, seorang murid hendaknya tidak mengajukan banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban pelik, misalnya.
Dalam hal ini dikhawatirkan gurutta kurang berkenan menjawabnya sebab memang sedang lelah sehingga membutuhkan istirahat untuk memulihkan stamina.
Demikian simpulan adab murid terhadap gurutta sebagaimana dinasihatkan oleh Anregurutta.
Jika diringkas, maka pada intinya adalah seorang murid hendaknya berlaku hormat kepada guru baik dengan sikap-sikap tertentu maupun dengan pandai-pandai menjaga lisan.
Ia hendaknya tahu kapan dan bagaimana sebaiknya ia berbicara kepada gurutta termasuk ketika hendak mengajukan pertanyaan.
Wallahu Waliyu Dakwah wal Irsyad
